Produsen Beradaptasi Dengan Perubahan Permintaan Tetapi PHK Berlanjut

Produsen Beradaptasi Dengan Perubahan Permintaan Tetapi PHK Berlanjut – Sementara sejumlah perusahaan manufaktur besar beradaptasi dengan perubahan permintaan terhadap peralatan kesehatan dan kebutuhan dasar selama pandemi COVID-19, PHK yang meluas dan cuti masih terlihat ketika produsen kecil dan menengah berjuang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan lanskap industri berubah selama pandemi dengan beberapa industri berkembang dan yang lainnya menderita sementara pemerintah sedang mencari keseimbangan antara menjaga mesin ekonomi berjalan dan mengekang penyebaran COVID-19.

“Kami telah menyediakan paket stimulus dan dukungan untuk menjaga sektor manufaktur tetap berjalan karena merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dengan pangsa 19 persen,” kata Agus kepada wartawan saat konferensi pers online pada hari Selasa.

Menurut data kementerian, 60 persen dari produsen telah terpukul oleh pandemi, sementara sisanya mengalami permintaan sedang atau tinggi. Permintaan telah meningkat untuk alat pelindung diri (APD), peralatan medis, produk farmasi dan makanan dan minuman, sementara sektor petrokimia juga melihat permintaan sedang.

Sebuah survei baru-baru ini oleh Mobile Marketing Association (MMA) dan SurveySensum menemukan bahwa 85 persen responden lebih sering mencuci tangan, sementara 46 persen mengatakan mereka mengonsumsi suplemen vitamin, yang mengindikasikan perubahan perilaku konsumen. Temuan survei ini sejalan dengan laporan pengecer tentang kenaikan permintaan untuk produk-produk kebersihan.

Perubahan dalam permintaan telah mendorong produsen untuk menggeser lini produksi mereka untuk membuat produk dengan permintaan tinggi.

Produsen komponen plastik PT Yogya Presisi Tehnikatama Industry (YPTI) dan perusahaan robotika PT Stechoq Robotika Indonesia telah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta untuk menghasilkan 600 ventilator bermutu tinggi per bulan. Konsorsium berencana untuk memulai produksi pada bulan Mei.

Pabrik senjata milik negara PT Pindad, produsen elektronik PT LEN dan produsen pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia juga telah bergabung untuk memproduksi ventilator. Ketiga perusahaan tersebut bekerja dengan Institut Teknologi Bandung untuk memproduksi 10.000 ventilator darurat pada pertengahan April, menurut data Kementerian Perindustrian.

Perusahaan tekstil juga cepat beradaptasi dengan perubahan permintaan dengan memproduksi APD dan masker yang sangat dibutuhkan.

“Dengan 28 perusahaan tekstil yang telah beralih jalur produksi untuk memproduksi APD, kami sekarang dapat memproduksi 1,8 juta keping APD per minggu. Kami juga dapat memproduksi 20 juta masker tingkat medis per minggu, ”kata direktur jenderal industri kimia, farmasi, dan industri tekstil, Muhammad Khayam.

Sementara beberapa perusahaan telah mampu beradaptasi, Agus mengatakan tidak semua industri akan mampu mengatasi krisis tanpa cedera.

“Di sektor tekstil, produsen besar dapat beralih dari memproduksi garmen ke memproduksi APD. Namun, tidak semua perusahaan dapat menggeser lini produksinya begitu cepat, ”kata Agus.

Di sektor tekstil, katanya, empat perusahaan besar telah mampu mengekspor produk senilai US $ 3 miliar selama pandemi. Namun, 1,5 juta pekerja masih di-cuti, dengan mayoritas bekerja di perusahaan-perusahaan tekstil kecil dan menengah. Poker Online Jakarta

“Mayoritas industri menderita, tetapi keadaannya lebih buruk bagi produsen kecil dan menengah. Kami akan mulai mengumpulkan data tentang jumlah PHK dan berkoordinasi dengan Kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk memberikan para pekerja manfaat kartu pra-kerja, ”katanya.

Sekitar 2,8 juta orang telah kehilangan pekerjaan mereka sejauh ini, menurut data dari Kementerian Tenaga Kerja dan Badan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BPJS Ketenagakerjaan).

Sementara itu, IHS Markit mengumumkan pada 1 April bahwa PMI Indonesia, ukuran untuk aktivitas manufaktur, telah merosot ke 45,3, yang terburuk dalam sejarah sembilan tahun survei. Pembacaan indeks di atas 50 mencerminkan ekspansi, sementara nilai di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Situasi bisa menjadi lebih buruk karena ekonomi Indonesia diproyeksikan akan melihat pertumbuhan yang lamban, kata Agus.

“Jika pertumbuhan ekonomi kita mencapai 2,4 persen, maka pertumbuhan [industri] kita dapat berkisar sekitar 2,5 hingga 2,6 persen. Namun, jika ekonomi kita hanya tumbuh 0,5 persen, kami akan menyesuaikan proyeksi pertumbuhan industri manufaktur menjadi sekitar 0,7 hingga 0,8 persen, ”katanya.

Pemerintah memproyeksikan ekonomi negara itu tumbuh 2,3 persen tahun ini di bawah skenario baseline dan bahkan berkontraksi 0,4 persen di bawah skenario terburuk. Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini memangkas proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 0,5 persen, yang akan menjadi tingkat pertumbuhan terendah sejak krisis keuangan 1998, dari 5,1 persen dalam proyeksi Oktober.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *